Melalui diskusi tersebut, ISKA mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa perlindungan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial dan arah pembangunan ekonomi.
Pencegahan karhutla membutuhkan komitmen bersama agar pengelolaan sumber daya alam tidak mengorbankan kesehatan masyarakat, keberlanjutan ekosistem, maupun kehidupan generasi mendatang.
Karhutla yang terus berulang menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan semata-mata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Sinergi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah menjadi langkah penting untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab serta mencegah bencana serupa terus terjadi setiap tahun.
Eksternalitas Negatif dan Keadilan Ekologis
Luky mengungkapkan, dalam Fokus ISKA 4 dijelaskan bahwa eksternalitas negatif terjadi ketika suatu aktivitas ekonomi menimbulkan kerugian bagi pihak lain yang tidak terlibat langsung di dalamnya.
Keuntungan mungkin diterima oleh pelaku usaha, tetapi dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan justru ditanggung oleh banyak pihak termasuk negara tetangga.
Persoalan in, tandas Luky, menunjukkan pentingnya keadilan ekologis. Kegiatan ekonomi tidak boleh hanya dinilai berdasarkan keuntungan yang diperoleh, tetapi juga berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Pihak yang menyebabkan kerusakan harus bertanggung jawab atas dampaknya, sedangkan masyarakat yang menjaga hutan dan lahan gambut perlu memperoleh dukungan nyata.
Ia menegaskan ekonomi karbon yang berkeadilan perlu memastikan bahwa perlindungan lingkungan memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan angka penurunan emisi. Dengan demikian, aktivitas roda perekonomian dapat berjalan tanpa mengabaikan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.

Komentar