Luky menekankan perlunya masyarakat mendapatkan dukungan agar dapat menjaga lingkungan tanpa kehilangan sumber penghidupan. Pendampingan, akses pengetahuan, dan pengembangan usaha berkelanjutan menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Program berbasis komunitas seperti Perhutanan Sosial dan Program Kampung Iklim (ProKlim) oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) perlu didukung secara konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan lingkungan.
Ia berpendapat, ekonomi karbon juga harus diarahkan pada perubahan nyata. Mekanisme kompensasi emisi tidak boleh menjadi pembenaran bagi praktik usaha yang merusak lingkungan.
Pengurangan emisi perlu dimulai dari sumbernya melalui perlindungan hutan, pencegahan kebakaran, pemulihan ekosistem, dan pengelolaan lahan yang bertanggung jawab.
Luky menyebutkan keberhasilan upaya tersebut tidak cukup diukur melalui angka penurunan emisi.
Perlindungan masyarakat, pemerataan manfaat ekonomi, dan kelestarian ekosistem juga perlu menjadi ukuran penting. Dengan pendekatan ini, ekonomi karbon dapat mendukung pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Memulihkan Bumi, Memuliakan Manusia
Terakhir, Luky Yusgiantoro menegaskan kembali bahwa Karhutla bukanlah takdir yang harus kita pasrahi setiap tahun, melainkan cermin dari tanggung jawab kolektif yang menuntut sinergi nyata antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
โPada akhirnya, pencegahan Karhutla yang dimulai dari kesadaran, diperkuat oleh komitmen moral, dan diwujudkan melalui aksi gotong royong bukan hanya sekadar memadamkan titik api, melainkan sebuah ikhtiar mulia untuk menjaga keberlangsungan kehidupan, melindungi sesama, dan memastikan generasi mendatang mewarisi bumi yang layak serta aman untuk ditinggali,โ katanya. (*/BilitonNews.co)

Komentar