Laudato Si’: Bumi sebagai Rumah Kita Bersama
Lebih lanjut Luky mengatakan bahwa persoalan karhutla dapat dilihat dari sisi Gereja Katolik, khususnya dari ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015. Melalui dokumen ini, Paus mengajak seluruh umat manusia untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama (our common home).
Bumi merupakan tempat kehidupan yang menopang manusia dan seluruh makhluk hidup. Kerusakan lingkungan tidak hanya menyangkut hilangnya pepohonan atau rusaknya ekosistem, tetapi juga kehidupan manusia yang bergantung pada alam.
Ketika hutan terbakar, masyarakat dapat kehilangan udara bersih, kesehatan, kesempatan belajar, produktivitas, dan sumber penghasilan. Dampak tersebut memperlihatkan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial.
Dalam semangat Laudato Si’, sambung Luky, aktivitas roda perekonomian perlu mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam, bukan hanya keuntungan jangka pendek. Merawat bumi berarti melindungi kehidupan, terutama masyarakat yang paling rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan.
โKepedulian terhadap alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia untuk menjaga kehidupan yang telah dipercayakan kepadanya,โ tandasnya.
Pertobatan Ekologis: Mengubah Kesadaran Menjadi Tindakan
Menurut Luky, salah satu pesan penting dalam Laudato Si’ adalah pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang, kebiasaan, dan tindakan manusia dalam memperlakukan alam.
Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diungkapkan melalui rasa prihatin ketika melihat hutan terbakar. Kepedulian tersebut perlu diwujudkan dalam pilihan dan tindakan nyata.

Komentar