Menurut Ahid, aspek keamanan dan ketertiban masyarakat harus menjadi perhatian utama. Ia menilai kondisi jalan yang relatif sempit, meskipun merupakan jalan nasional, membuat aktivitas pengangkutan batubara dengan truk memiliki risiko terhadap masyarakat.
โKeamanan dan ketertiban lebih penting bagi kami. Jalan ini memang jalan nasional, tapi terlalu sempit dan pengangkutan batubara ini sangat berisiko bagi masyarakat,โ katanya.
Selain persoalan jalur angkutan, Ahid menyebut masih diperlukan sejumlah kajian terkait kesiapan fasilitas pelabuhan, termasuk crane yang akan digunakan untuk bongkar muat batubara.
Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut merupakan salah satu modal dasar untuk mendukung aktivitas bongkar muat di Tanjung Batu, namun perlu dipastikan kesesuaiannya karena crane tersebut khusus digunakan untuk batubara.
Ahid juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi batubara yang masih berada di dalam tongkang. Menurutnya, batubara mulai mengalami pemanasan akibat paparan sinar matahari dan bahkan sulit dipadamkan meski telah disiram air.
โBatubara di tongkang sudah mulai terbakar kena sinar matahari. Disiram air pun tidak mati apinya,โ ungkapnya.
Ia mengatakan persoalan tersebut sebenarnya sudah pernah disampaikan sejak 2019, ketika dilakukan sosialisasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) di tingkat provinsi. Karena itu, ia berharap solusi yang pernah disampaikan dapat segera ditindaklanjuti demi menjaga ketenteraman masyarakat.
โSolusinya pernah kami sampaikan pada 2019 lalu, waktu sosialisasi Amdal di provinsi. Kalau dapat cepat ditindaklanjuti, agar ketenteraman kami sebagai pengurus di desa lebih nyaman,โ ujarnya.

Komentar