Bahkan warga semakin marah dengan peristiwa seorang warga desa mereka tertabrak truk pengangkut batubara pada Sabtu (22/8/2026) lalu. Korban yang menderita luka-luka cukup serius saat ini dirujuk ke Jakarta untuk mendapatkan pengnanganan medis yang lebih baik.
“Kami minta bongkar muat batubara untuk PLTU di Pelabuhan Tanjung Ru dihentikan, karena desa kami kena dampaknya. Debu batubara mengotori rumah-rumah kami, ada toko warga yang sampai tutup gara-gara debu ini. Truk pengangkut batubara ngebut, sudah kayak jalan tol jalan di desa kami,” kata Aswat, salah seorang warga Desa Pegantungan saat mediasi tersebut.
Dikatakannya, ia serta warga desa tidak bermaksud menghentikan operasional PLTU Suge, namun pihak PLTU maupun pemerintah daerah juga harus memperhatikan kondisi, keamanan dan kenyamanan masyarakat setempat.
“Sudah sejak tahun 2019 lalu kami sudah minta persoalan ini ditindaklanjuti dan janjinya tahun 2021 akan segera diupayakan solusinya. Namun sampai tahun 2026 ini belum juga ada buktinya. Kami tidak ingin ada korban-korban lainnya diikemudian hari,” kata Aswat.
Seorang warga lainnya mengatakan, tiap kali warga mengingatkan sopir truk agar tidak ngebut, para sopir tersebut membantah bahkan mengacungkan tinju kepada warga.
“Tiap kali kami ingatkan, mereka malah mengangkat tangan terkepal, bukan mengurangi kecepatannya,” kata warga tersebut.
Habiskan Sisa Batubara di Tongkang
Setelah melalui mediasi yang cukup alot, para pihak akhirnya menyepakati pemberian kesempatan kepada perusahaan transportasi pengangkut batubara untuk menghabiskan sisa batubara sekitar 3.500 ton yang saat ini masih berada di dalam tongkang.

Komentar