Para tamu yang hadir menjadi terkesima, ketika kedua tokoh agama itu bertemu. Rm Fadjar yang mengenakan jubah putih langsung memeluk dan menggendong KH Suyuti Toha yang tubuhnya lebih kecil.
KH Suyuti nampak bahagia dengan gendongan tersebut. Nampak sekali kerinduan di antara keduanya yang terpancar di wajah mereka. Dan memang seperti kesepakatan, jika mereka bertemu, Rm Fadjar yang lebih muda harus menggendong KH Suyuti (85).
Pondok ini, demikian Rm Fadjar bercerita, tidak asing bagi dirinya. Saat bertugas di Banyuwangi, dirinya selalu menjadi teman bertukar pikiran KH Suyuti di tengah malam hingga pagi hari.
Mereka tidak berbicara soal agama tetapi tentang negara, bangsa dan spiritual tingkat tinggi dalam pijakan budaya.
“Saya tidak lupa dengan pondok yang lama. Dan sekarang berubah ada ruang tamu yang berbeda. Dulu juga kalau menerima tamu, Pak Yai (panggilan akrab KH Suyuti Toha-red) selalu menerima di bawah tanpa meja dan kursi. Itu adalah tradisi tanpa perubahan. Siapun tamunya, orang besar atau kecil semua duduk bersila sama tinggi,” ujar Rm Fadjar yang tokoh pegiat Dokumen Abu Dhabi.
Sandi Suwardi Hasan, saksi hidup kedekatan kedua tokoh agama tersebut. Suatu momen, Sandi menjelaskan, ketika dirinya dipertemukan dengan KH Suyuti dan Romo Fadjar dalam satu kegiatan yang sama.
“Saya melihat Mbah Yai dan Romo Fadjar sangat dekat karena punya semangat dan pandangan yang sama soal persaudaraan sejati, soal bangsa dan negara,“ jelasnya.
Dapur Adalah Kunci
Setelah sekitar hampir dua jam berbincang-bincang saling meluapkan rasa rindu di ruang tamu rumah baru, KH Suyuti mengajak santap malam bersama di ruang makan kecil dekat dapur yang berada di rumah lama. Bagi para santri, kamar pribadi dan ruang makan di dalam rumah merupakan tempat sakral.





















Komentar