Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Direktur Utama LAZ Nasional Sandi Suwardi Hasan, pegiat kebangsaan Banyuwangi Syaiful Rizal, Heribertus Wicaksono, Topan Adinata, Andika Ronggo Gumuruh, Hasanan, Arif Subhan dari Universitas PGRI Banyuwangi, serta wartawan SelendangSutera Banyuwangi, Suyanto.
KH Suyuti Toha menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan implementasi dari nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan Majelis Dzikir Nurul Wathon.
Menurutnya, persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan harus terus dirawat sebagai fondasi kehidupan bersama di Indonesia.
“Yang kami bangun adalah ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sesama anak bangsa, serta ukhuwah basyariyah, yaitu persaudaraan kemanusiaan yang bersifat universal,” ujar KH Suyuti.
Pertemuan hangat yang berlangsung hingga larut malam itu menjadi contoh bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna.
Dialog, saling mengunjungi, dan duduk bersama menjadi cara efektif untuk memperkuat persatuan sekaligus menjaga harmoni dalam keberagaman bangsa.
Reuni Setelah 10 Tahun tak Berjumpa
Kraksaan Probolinggo dan Banyuwangi berjarak 195 km atau 6 jam perjalanan darat. Namun persahabatan kedua tokoh agama itu, lebih jauh dan lama daripada 6 jam perjalanan darat. Persahabatan itu telah berlangsung 25 tahunan.
Kedua tokoh itu pertama kali bertemu sekitar tahun 2000-an, saat Rm Fadjar berkarya di Paroki St Yohanes Penginjil, Bondowoso. Sehingga, pertemuan Banyuwangi malam itu merupakan ajang reuni bagi keduanya setelah 10 tahun tidak berjumpa.





















Komentar