BILITONNEWS.CO, YOGYAKARTA – Di tengah percepatan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu agenda strategis pembangunan nasional, berkembang sebuah pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar target jumlah koperasi yang terbentuk.
Mampukah KDMP menjadi institusi demokrasi ekonomi yang membangun kemandirian masyarakat desa, ataukah ia hanya akan menjadi instrumen administratif yang kehilangan roh perkoperasian?
Pembentukan ribuan koperasi dalam waktu singkat merupakan momentum penting bagi kebangkitan ekonomi desa, namun momentum tersebut hanya akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan apabila diikuti dengan penguatan kelembagaan, partisipasi masyarakat, tata kelola yang baik, serta pembangunan kapasitas sumber daya manusia.
Pertanyaan tersebut menjadi fokus Focus Group Discussion (FGD) “Quo Vadis Koperasi Desa Merah Putih?” yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) DPD Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu 11 Juli 2026.
Forum yang dibuka oleh Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Y Gustan Ganda ST, menghadirkan lima narasumber dari kalangan akademisi, praktisi koperasi, pakar kebijakan publik, dan tokoh Gereja untuk mengkaji masa depan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Pembahasan disusun secara sistematis, dimulai dari perspektif filsafat oleh Dr Drs Bernadus Wibowo Suliantoro MHum, dilanjutkan analisis kebijakan publik oleh Dr Ag Subarsono MSi MA, refleksi Ajaran Sosial Gereja oleh Dr Mateus Mali CsSR, kajian implementasi ekonomi desa oleh Dr Haryono Subiyakto MSi, serta pengalaman empiris tata kelola koperasi oleh Drs B Belariantata MM.



Komentar