Di penghujung acara, Ketua Komisi HAK Kevikepan Kedu, Romo Petrus Sajiyana, Pr, memberikan penegasan arah gerakan ke depan.
Beliau secara kuat mendorong umat Katolik dan Kristen untuk terlibat aktif dalam gerakan-gerakan cinta tanah air serta menolak segala bentuk segregasi di tengah masyarakat, termasuk dalam urusan pemakaman.
“Kita ingin mendorong suasana inklusif di daerah eks karesidenan Kedu ini. Umat Katolik dan Kristen harus terlibat dalam gerakan cinta tanah air dan menolak berbagai bentuk pengkotak-kotakan, termasuk di dalamnya ide untuk mendirikan makam khusus Katolik atau Kristen,” tegas Romo Sajiyana dalam sambutannya.
Dinamika Kelompok dan Solusi Akar Rumput
Diskusi interaktif ini dihadiri oleh berbagai elemen, meliputi perwakilan tim pelayanan HAK paroki, Orang Muda Katolik (OMK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), FKUB, perwakilan pendeta Kabupaten/Kota Magelang dan Temanggung, hingga Komunitas Pager Piring.
Sesi diawali dengan sambutan hangat dari Bapak Christian C Birawan selaku Wakil Ketua II DPPH Paroki Administratif St. Petrus, Borobudur.
Memasuki sesi Dinamika Kelompok, para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang iman ini diajak merumuskan rekomendasi praktis untuk memetakan jalan keluar atas hambatan perizinan dan tata kelola pemakaman di wilayah masing-masing.
Hasil pemikiran tiap kelompok dipaparkan secara pleno dan langsung ditanggapi secara strategis oleh kedua narasumber.
Setelah penegasan dari Romo Sajiyana, acara kemudian ditutup secara khidmat dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri, sesi dokumentasi bersama, serta doa penutup dan doa makan bersama. (*/BilitonNews.co)





















Komentar