Pemesanan tersebut adalah yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah hidup galerinya. Niko diminta membuat patung serial jalan salib dengan jumlah stasi 14, seperti pada umumnya. Hanya istimewanya, masing-masing stasi hanya terdiri dua tokoh dengan tinggi 180 cm.
Meski demikian, anehnya, si pemesan menyetujui ketika Niko mengusulkan tambahan satu tokoh lagi pada stasi ketigabelas, yang dalam tradisi Jalan Salib adalah adegan pieta, Bunda Maria memangku jenasah Yesus (pieta). Artinya, dalam stasi ketigabelas itu ada tiga tokoh.
Terkejut
Dalam audiensi pada 25 Maret 2026, delapan orang membawa patung Yusuf Arimatea dari Indonesia dan dipersembahkan kepada Paus Leo XIV. Mereka adalah, AM. Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera, yang kelimanya adalah delegasi PWKI.
Sementara dua lainnya dari delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yakni Mgr Agustinus ’Didik” Tri Budi Utomo (Ketua Komisi Komunikasi Sosial/Komsos) dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo (Sekretaris Komisi Komsos).
Yang terakhir adalah Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia, yang menjadi pendamping rombongan.
Baik Niko dan Linda mengaku sangat terkejut ketika banyak media memberitakan penyerahan patung Yusuf Arimatea tersebut. Keduanya tidak pernah menduga bahwa patung yang mereka buat akan diterima langsung oleh Paus Leo XIV.
Menurut cerita Niko, pada bulan Agustus 2025 ia menerima pesanan dari Putut Prabantoro untuk membuat patung Yusuf Arimatea.



Komentar