Cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat, khususnya dalam khazanah budaya Besemah dan kawasan Pasemah. Meski kisah kesaktiannya merupakan legenda, keberadaan cerita itu menunjukkan kekayaan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, sosok yang dahulu dikenal melalui cerita rakyat itu hadir dalam bentuk monumen di pusat Kota Lahat.
Bagi masyarakat, patung tersebut dapat menjadi pengingat bahwa sejarah dan identitas sebuah daerah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga hidup melalui cerita, simbol, dan ruang publik.
Sarina, Pedagang Pasar, Menilai Patung Jadi Ciri Khas Kota
Keberadaan patung di perempatan pusat Kota Lahat juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang beraktivitas di sekitar pasar.
Sarina, seorang pedagang pasar, melihat monumen tersebut sebagai salah satu penanda yang membuat kawasan pusat kota mudah dikenali.
Menurutnya, keberadaan ikon daerah akan semakin bermakna apabila dirawat dengan baik dan disertai informasi yang membantu masyarakat mengenal sejarah serta cerita di baliknya.
“Patung ini sudah menjadi salah satu ciri khas Kota Lahat. Harapannya, pemerintah terus merawatnya supaya tetap bagus dan masyarakat, terutama anak-anak muda, juga tahu cerita tentang Si Pahit Lidah,” ujar Sarina kepada BilitonNews.co, Senin (26/10/2026).
Bukan Sekadar Hiasan di Persimpangan
Setiap hari, kendaraan melintas dan aktivitas perdagangan berlangsung di sekitar perempatan tersebut. Di tengah kesibukan itu, patung Serunting Sakti menjadi bagian dari wajah Kota Lahat yang dilihat warga maupun pendatang.

Komentar