Harapannya pun sederhana. Ia ingin Air Kelapa Barokah terus bertahan dan dirinya bisa tetap berjualan di lokasi tersebut.
“Semoga lancar dan bisa terus jualan di sini,” tuturnya.
Di balik lapak sederhana itu, ada ketekunan seorang ayah yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah. Hari demi hari dijalani dengan harapan agar usaha yang dirintisnya mampu menopang kebutuhan keluarga.
Air Kelapa Jadi Favorit Saat Cuaca Panas

Kesegaran air kelapa yang ditawarkan Air Kelapa Barokah turut menarik pelanggan dari lingkungan sekitar. Salah satunya Jelly (22), seorang pekerja swasta yang mengaku kerap membeli air kelapa di tempat tersebut.
Menurut Jelly, air kelapa menjadi minuman favoritnya, terutama ketika cuaca panas dan rasa haus mulai mengganggu aktivitas.
“Ini minuman favorit. Rasanya segar, apalagi cuaca sedang panas. Kalau haus, nikmat saja minum ini,” kata Jelly.
Jelly, yang tinggal di Perumnas Blok C, mengaku sering membeli air kelapa di lapak Dodi karena lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Bagi Jelly, air kelapa menjadi pilihan untuk menyegarkan diri di tengah cuaca terik. Sementara bagi Dodi, kedatangan pelanggan menjadi bagian penting dalam menjaga roda usahanya tetap berputar.
Kisah Air Kelapa Barokah memperlihatkan bagaimana kebutuhan sehari-hari dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat. Di tengah persaingan mencari penghasilan, Dodi memilih bertahan melalui usaha sederhana yang dijalaninya dengan tekun.
Di Jalan Kolonel Berlian, perjuangan itu berlangsung setiap hari. Buah kelapa tersusun untuk dijual, pelanggan datang silih berganti, dan waktu terus berjalan bersama harapan seorang ayah bagi keluarganya.

Komentar