HUT TNI DPRD
Advertisement
Inspirasi
Home » Berita » Puluhan Tahun Jualan Nasi di Pelabuhan Pangkal Balam, Nurhalimah Bertahan di Tengah Duka Kehidupan

Puluhan Tahun Jualan Nasi di Pelabuhan Pangkal Balam, Nurhalimah Bertahan di Tengah Duka Kehidupan

Nurhalimah, pedagang nasi di Pelabuhan Pangkal Balam, Pangkalpinang, yang telah berjuang menghidupi keluarga sejak 1998. (BilitonNews.co/Gumay)

BILITONNEWS.CO, PANGKALPINANG – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Pelabuhan Pangkal Balam, Pangkalpinang, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu bernama Nurhalimah (68). Selama hampir 28 tahun, ia bertahan berjualan nasi demi menghidupi keluarga dan mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan.

Warga Gabek, Pangkalpinang, ini memulai usahanya sekitar 1998 dengan modal seadanya, hanya Rp90 ribu. Gerobak pertamanya pun dibuat sederhana dari plastik dan kayu. Tak ada kemewahan, hanya keyakinan bahwa rezeki harus tetap dicari meski kehidupan berkali-kali menguji hati.

Duka pernah membuat langkahnya terhenti. Dari tujuh anak yang dilahirkan, seorang di antaranya meninggal dunia. Kesedihan itu membuat Nurhalimah dan suaminya, Usni Jailani, sempat kehilangan semangat untuk bekerja.

Ujian kembali datang ketika sang suami meninggal dunia pada 2005, dalam usia 51 tahun. Sejak itu, perjuangan hidup menjadi semakin berat. Namun, Nurhalimah tetap bertahan, menjadikan usaha berjualan nasi di pelabuhan sebagai bagian dari perjalanan panjangnya.

Perlahan, kerja keras itu membuahkan hasil. Ia mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, mengantarkan tiga anaknya ke jenjang pernikahan, bahkan menunaikan ibadah umrah dari hasil usahanya.

Isyak Meirobie Resmi Jadi Rektor Pertama Institut Dargantara, Anak Muda Belitung Punya Harapan Baru

Kini, di usia senja, Nurhalimah masih mengenang perjalanan tersebut. Anak-anaknya turut membantu menjalankan usaha yang telah menjadi saksi jatuh bangun kehidupan keluarganya.

Hampir tiga dekade berlalu, gerobak sederhana itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sana tersimpan cerita tentang kehilangan, air mata, dan keteguhan seorang ibu yang terus berjuang, meski tak semua kebahagiaan dapat ia genggam selamanya.

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUT TNI (6)
HUT TNI (5)
HUT TNI (1)
HUT TNI (4)
HUT TNI (2)
HUT TNI (7)
HUT TNI (3)

Berita Populer