Bagi dirinya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi jembatan yang membuka akses anak-anak terhadap dunia yang lebih luas.
Karena itu, penguatan kapasitas guru menjadi kunci agar setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Ia menjelaskan, selama ini dirinya banyak terlibat dalam berbagai program literasi bersama kementerian, termasuk penguatan transisi pembelajaran dari PAUD menuju SD.
Namun, kebutuhan masyarakat terhadap peningkatan kompetensi guru terus berkembang.
“Dana kementerian tentu memiliki keterbatasan, sementara kebutuhan masyarakat tidak terbatas. Karena itu kegiatan seperti ini penting agar guru PAUD dan SD dapat bersama-sama menciptakan transisi pembelajaran yang lebih baik, terutama dalam literasi dan numerasi,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, Dr. Sumiarti tidak hanya berbagi pengalaman mengajar, tetapi juga memperkenalkan strategi pembelajaran yang berbasis penelitian.
“Semua yang saya ajarkan berbasis riset karena saya juga seorang peneliti. Jadi bukan hanya pengalaman, tetapi ada dasar ilmiah yang menjadi pijakan,” katanya.
Ia menilai salah satu tantangan terbesar dalam penguatan literasi saat ini adalah masih terbatasnya akses informasi dan pelatihan bagi sebagian guru.
Namun, ia percaya bahwa setiap pendidik memiliki potensi besar menjadi penggerak perubahan.
“Orang yang memilih menjadi guru adalah orang-orang terpilih. Jika saat ini belum menjadi guru yang baik, mungkin karena belum mendapatkan kesempatan untuk belajar.
Jadi bukan waktunya saling menyalahkan, tetapi mulai berbuat dari sesuatu yang kecil,” tegasnya.





















Komentar