Yang ikut dipertaruhkan adalah kesempatan untuk bekerja.
Kesempatan mencari nafkah.
Kesempatan memenuhi kebutuhan keluarga.
Hari itu, Sherli tetap berdiri di dalam antrean.
Panas matahari terus membakar.
Kendaraan terus berbaris.
Dan seorang ibu terus menunggu.
Ia menunggu bukan karena ingin.
Ia menunggu karena harus.
Sebab tanpa BBM, motornya tidak berjalan.
Tanpa motor, pekerjaan suaminya bisa terganggu.
Tanpa pekerjaan, penghasilan keluarga terancam.
Dan tanpa penghasilan, pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan akan muncul.
“Besok kami makan apa”
Mungkin bagi sebagian orang, Pertalite hanyalah BBM yang masuk ke dalam tangki kendaraan.
Namun bagi Sherli dan keluarga kecilnya, beberapa liter BBM bisa menjadi perbedaan antara bisa bekerja atau tidak.
Antara bisa pulang atau masih terjebak di jalan.
Antara dapur tetap menyala atau kembali bertanya.
“Hari ini kita makan apa”
Dan di bawah terik matahari Belitung, seorang ibu masih menunggu.
Bukan menunggu kemewahan.
Ia hanya menunggu haknya untuk bisa melanjutkan hidup. (BilitoNews.co/Gumay)

Komentar