Advertisement
Belitung
Home » Berita » Tiga Jam Berdiri di Bawah Terik Demi Seliter Pertalite, Tangis Ibu di Belitung: “Nak Makan Saja Susah”

Tiga Jam Berdiri di Bawah Terik Demi Seliter Pertalite, Tangis Ibu di Belitung: “Nak Makan Saja Susah”

Potret Sherli saat bertahan di tengah antrean panjang BBM. Di bawah terik matahari, ia menunggu giliran demi mendapatkan beberapa liter Pertalite untuk kebutuhan keluarganya, Senin (21/9/2026). (BilitonNews.co/Gumay)

Yang ikut dipertaruhkan adalah kesempatan untuk bekerja.

Kesempatan mencari nafkah.

Kesempatan memenuhi kebutuhan keluarga.

Hari itu, Sherli tetap berdiri di dalam antrean.

Panas matahari terus membakar.

Teduh Kopi Padangsidimpuan, Ruang Singgah Mahasiswa Menikmati Kopi dan Melepas Penat

Kendaraan terus berbaris.

Dan seorang ibu terus menunggu.

Ia menunggu bukan karena ingin.

Ia menunggu karena harus.

Sebab tanpa BBM, motornya tidak berjalan.

Salib HOMS Tiba di Belitung, Umat Katolik Paroki Regina Pacis Sambut dengan Tari Tradisional

Tanpa motor, pekerjaan suaminya bisa terganggu.

Tanpa pekerjaan, penghasilan keluarga terancam.

Dan tanpa penghasilan, pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan akan muncul.

“Besok kami makan apa”

Mungkin bagi sebagian orang, Pertalite hanyalah BBM yang masuk ke dalam tangki kendaraan.

Dari Sajadah ke Ruang Aspirasi, Kapolres Bangka Barat Dengarkan Keluh Kesah Warga

Namun bagi Sherli dan keluarga kecilnya, beberapa liter BBM bisa menjadi perbedaan antara bisa bekerja atau tidak.

Antara bisa pulang atau masih terjebak di jalan.

Antara dapur tetap menyala atau kembali bertanya.

“Hari ini kita makan apa”

Dan di bawah terik matahari Belitung, seorang ibu masih menunggu.

Bukan menunggu kemewahan.

Ia hanya menunggu haknya untuk bisa melanjutkan hidup. (BilitoNews.co/Gumay)

Laman: 1 2 3 4

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *