“Kami Tidak Butuh Teori, Kami Butuh Solusi Nyata”
Keresahan Sherli tidak berhenti pada panjangnya antrean.
Ia juga mempertanyakan kelangkaan Pertalite yang menurut pengakuannya sulit ditemukan.
Bahkan, kata dia, BBM tersebut juga sulit ditemukan di tingkat pengecer.
“Saat ini kami tidak butuh aturan. Yang kami butuhkan prosedur yang nyata untuk mengatasi kelangkaan BBM jenis Pertalite saat ini. Dikemanakan bensin tersebut. Aneh bin ajaib sampai di eceran pun tidak ada.”
Sherli berharap persoalan tersebut benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.
Ia ingin para pemimpin melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan.
Bukan sekadar membuat aturan.
Bukan sekadar memberikan imbauan.
Tetapi menghadirkan langkah nyata.
“Ayo para pemimpin, buktikan sumpah, janji dan jabatanmu untuk masyarakat kecil. Jangan hanya teori, tapi bukti nyata.”
Bukan Sekadar BBM, Ini Tentang Perut Sebuah Keluarga
Di balik antrean panjang itu, ada kehidupan yang sedang dipertaruhkan.
Sherli bukan orang yang sedang mengejar keuntungan besar.
Ia hanya seorang ibu rumah tangga.
Suaminya bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Dan mereka memiliki kebutuhan yang sama seperti keluarga lainnya.
Makan.
Sekolah.
Bekerja.
Bertahan hidup.
“Kami butuh makan. Anak kami butuh sekolah. Suami kami mau bekerja untuk menafkahi keluarga kami.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru karena kesederhanaannya, kalimat tersebut terasa begitu menyakitkan.
Sebab ketika sebuah keluarga harus menghabiskan berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM, yang hilang bukan hanya waktu.

Komentar