Seorang ibu meninggalkan motornya di tengah antrean bukan untuk pergi bersenang-senang.
Ia pergi karena anaknya harus sekolah.
Sherli kemudian menelepon kerabatnya dan meminta bantuan untuk mengantarkan sang anak.
Setelah anaknya sampai di sekolah, ia kembali ke SPBU.
Dan pemandangan yang sama masih menunggunya.
Antrean panjang.
Panas matahari.
Dan harapan yang belum juga sampai ke tangannya.
Waktu terus berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Hingga Sherli mengaku sudah sekitar tiga jam mengantre untuk mendapatkan bensin.
Di bawah panas yang menyengat, kesabarannya mulai bercampur dengan kesedihan.
Sebab bagi Sherli, ini bukan sekadar persoalan BBM.
Ini persoalan hidup.
“Aku sudah tiga jam antre untuk mendapat bensin ini. Ya Allah, di mana letak keadilan pada masyarakat lemah seperti kami ini”
Sherli mengaku kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak mudah.
Suaminya merupakan seorang nelayan. Sesekali, suaminya juga ikut menambang.
Penghasilan yang diperoleh tidak menentu.
Kadang ada rezeki.
Kadang tidak.
Namun kebutuhan rumah tangga tetap berjalan setiap hari.
Anak harus sekolah.
Perut harus diisi.
Suami harus bekerja.
Dan kendaraan yang digunakan untuk bekerja membutuhkan BBM.
Sherli pun mengaku semakin sedih melihat kondisi masyarakat yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
“Ekonomi sudah sakit, ditambah untuk mendapatkan bensin berjam-jam.
Kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum di wilayah Belitung, tolong jangan siksa kami seperti ini. Mana keadilan untuk masyarakat kecil seperti kami ini. Nak makan saja susah.”

Komentar