Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejarah perkembangan gambus, fungsi musik dalam tradisi masyarakat, hingga bagaimana kesenian tersebut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Muchlis menilai keberlangsungan tradisi gambus sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
“Kita perlu meneruskan tradisi ini agar identitas kultural Belitung tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang,” katanya.
Sementara itu, Rendy menjelaskan bahwa gambus memiliki nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar instrumen musik.
“Gambus bukan hanya alat musik, ia merekam perjalanan komunitas kita, dari tarian hingga upacara tradisi,” ujarnya.
Adapun Usni Mariosha memberikan materi terkait teknik permainan gambus serta inovasi yang dapat membuat musik tradisional tersebut tetap relevan dan diminati anak muda.

Siswa Antusias Belajar Musik Tradisional Belitung
Kegiatan edutainment ini melibatkan siswa sekolah dasar sebagai peserta utama. Pada hari pertama, sebanyak 40 siswa dari SD Negeri 1 Tanjungpandan mengikuti kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan 40 siswa dari SD Regina Pacis pada hari kedua.
Tidak hanya mendengarkan materi, para siswa juga terlibat aktif melalui sesi tanya jawab, praktik memainkan gambus sederhana, serta menyaksikan langsung demonstrasi permainan musik dari para praktisi.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah seorang guru pendamping menyampaikan bahwa pengalaman tersebut memberikan motivasi baru bagi siswa untuk mengenal dan mempelajari budaya daerah.


Komentar