Menurutnya, daya tarik Warkop Akew tidak hanya terletak pada cita rasa kopi, tetapi juga suasana pergaulan yang terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat.
“Ya, lebih familiar. Semua kalangan, mulai dari gubernur sampai tukang parkir, semuanya berbaur di warung kopi ini,” ujarnya.

Di balik kesederhanaan warung tersebut, Warkop Akew ternyata memiliki perjalanan panjang. Pemiliknya, In In, menuturkan bahwa usaha itu bermula dari neneknya sekitar era 1930-an.
Pada masa itu, tempat tersebut belum menggunakan nama Akew. Setelah sempat berhenti beroperasi, warung kopi tersebut kembali dibuka pada era 1980-an oleh orangtua In In, sebelum akhirnya diteruskan oleh dirinya hingga sekarang.
“Dulu awalnya pemiliknya nenek kita, kurang lebih tahun 1930-an. Kami sempat tutup, kemudian buka kembali pada tahun 1980-an oleh orangtua kami. Sampai sekarang diteruskan oleh anaknya, yaitu saya,” ungkap In In.
Ia menjelaskan, nama Akew mulai digunakan ketika usaha keluarga itu kembali beroperasi. Sejak saat itu, Warkop Akew terus menjadi tempat persinggahan bagi pelanggan yang ingin menikmati kopi sekaligus berbincang bersama teman maupun rekan kerja.
Untuk menu, Warkop Akew tetap mempertahankan pilihan yang sederhana. Pengunjung dapat menikmati kopi hitam, kopi susu, dan soda susu. Sementara untuk makanan, tersedia mi instan, kue basah, serta telur ayam kampung setengah matang.
Meski tidak menawarkan banyak pilihan, warung tersebut disebut selalu ramai dikunjungi setiap hari. Sebagian pelanggan bahkan telah menjadi langganan sejak lama.

Komentar