“Kehadiran masyarakat merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan sektor pariwisata dan pelestarian budaya di Kota Pangkalpinang,” ujar Saparudin.
Ia menjelaskan, pembukaan Festival Pasir Padi 7 sengaja bertepatan dengan perayaan tradisi Pekcun, yang dikenal masyarakat sebagai momen untuk menyaksikan fenomena menegakkan telur sekitar pukul 12.00 WIB di kawasan pantai.
Menurut Saparudin, selain menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, fenomena tersebut juga memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan kondisi astronomi tertentu, sehingga menjadi daya tarik wisata yang unik dan menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan.
Lebih lanjut, ia mengatakan tema Festival Pasir Padi tahun ini mengangkat keberagaman budaya Indonesia yang selaras dengan peringatan Bulan Pancasila pada Juni.
Melalui festival tersebut, berbagai kesenian dan budaya dari beragam suku dan etnis ditampilkan, mulai dari budaya Melayu, Tionghoa, hingga Jawa.
Keberagaman itu, menurutnya, mencerminkan kehidupan masyarakat Pangkalpinang yang hidup berdampingan secara harmonis dalam semangat saling menghormati.
“Melalui festival ini ditampilkan berbagai kesenian dan budaya dari beragam suku dan etnis. Keberagaman tersebut menjadi cerminan nyata kehidupan masyarakat Kota Pangkalpinang yang hidup rukun, harmonis, dan saling menghormati,” kata Saparudin.
Ia menambahkan, Pangkalpinang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi antarumat beragama dan antarbudaya yang tinggi.





















Komentar