Hingga kini, cerita tersebut masih menjadi bagian dari warisan budaya lisan masyarakat Pulau Seliu.
Tradisi lisan lainnya juga menyebutkan bahwa tokoh peziarah Buddha I Tsing (Yijing) serta Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Siam pernah singgah di Pulau Hio of Leo dalam perjalanan laut mereka.
Hingga saat ini, kisah tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut melalui penelitian sejarah dan sumber-sumber primer untuk memperoleh verifikasi akademik.

Pulau Seliu juga diyakini memiliki kontribusi tersendiri dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat, setelah Belitung berhasil direbut dari kekuasaan Jepang pada masa Revolusi Kemerdekaan, sejumlah senjata rampasan perang sempat disimpan sementara di Pulau Seliu sebelum dikirim ke Jakarta.
Pemilihan Pulau Seliu disebut karena pada masa itu masyarakat Seliu memiliki armada pelayaran yang rutin mengangkut kopra ke Jakarta sehingga jalur tersebut dinilai aman untuk membantu proses pengiriman logistik.
Walaupun kisah ini masih bersumber dari sejarah lisan dan memerlukan penguatan melalui dokumen arsip, cerita tersebut menunjukkan besarnya peran masyarakat maritim Pulau Seliu dalam mendukung perjuangan bangsa.
Kini, perpaduan panorama laut yang indah dengan jejak sejarah maritim menjadikan Pulau Seliu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Bukan hanya menawarkan keindahan pantai, tetapi juga menghadirkan kisah panjang tentang pelayaran dunia, perdagangan internasional, pemerintahan kolonial, hingga cerita-cerita perjuangan yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya.





















Komentar