Pemerintah Desa Seliu pun berupaya memadukan kekayaan sejarah tersebut dengan pengembangan wisata bahari agar menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
Selain sejarah yang telah terdokumentasi, masyarakat Pulau Seliu juga mewarisi berbagai tradisi lisan mengenai masa lalu pulau ini.
Salah satunya menyebutkan bahwa jauh sebelum nama Bangka dan Belitung dikenal luas di peta pelayaran, Pulau Seliu telah dikenal oleh para pelaut asing sebagai Hio of Leo.
Menurut cerita turun-temurun yang diwariskan keluarga Tjoeng Kim Soe, sejak sekitar abad ke-17 Pulau Hio of Leo menjadi tempat persinggahan para pelaut dari Tiongkok, Arab, India, dan berbagai kawasan Asia.
Sesuai tradisi pelayaran saat itu, mereka singgah untuk mengucapkan syukur atas keselamatan perjalanan laut.Di kawasan Marangbulo Peninsula, konon pernah berdiri sebuah kuil kayu di atas hamparan batu datar yang luas.
Tempat tersebut dipercaya menjadi lokasi para pelaut memanjatkan doa sebelum kembali melanjutkan pelayaran.
Kini bangunan kuil tersebut telah hilang dimakan usia, sementara hamparan batu datarnya masih diyakini menjadi penanda lokasi bersejarah tersebut.
Dalam tradisi lisan masyarakat juga berkembang kisah bahwa nama Hio of Leo berkaitan dengan penampakan awan menyerupai kepala singa berekor ikan yang terlihat para pelaut setelah melewati Selat Malaka.
Penampakan itu dipercaya sebagai pertanda keselamatan dalam pelayaran dan kemudian menjadi asal-usul penyebutan Hio of Leo. Kisah ini bahkan dikaitkan dengan simbol Merlion yang kemudian dikenal sebagai ikon Singapura.





















Komentar