Anak-anak di Desa Buku Limau tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya menginginkan kesempatan yang sama dengan anak-anak lain di Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Sudah saatnya perhatian terhadap pendidikan di wilayah kepulauan tidak berhenti pada wacana dan janji semata.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat perlu merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif, mulai dari penguatan layanan pendidikan menengah di wilayah kepulauan seperti Desa Buku Limau, penyediaan transportasi khusus pelajar, bantuan biaya hidup bagi siswa yang harus tinggal di luar daerah, hingga pemerataan tenaga pendidik agar sekolah yang pernah berdiri tidak lagi berhenti beroperasi hanya karena kekurangan guru.
Sebab, membangun pendidikan bukan sekadar mendirikan sekolah, melainkan memastikan bahwa pendidikan benar-benar dapat diakses oleh setiap anak tanpa terkecuali.
Pada akhirnya, perjalanan panjang yang harus ditempuh anak-anak Desa Buku Limau untuk memperoleh pendidikan tidak boleh terus-menerus dianggap sebagai kisah ketangguhan yang layak dinormalisasi.
Di balik semangat dan perjuangan mereka, terdapat pertanyaan mendasar yang seharusnya kita renungkan bersama: mengapa seorang anak harus berjuang sedemikian keras hanya untuk memperoleh hak yang sejak awal telah dijamin oleh negara?
Selama pertanyaan tersebut belum dijawab melalui kebijakan yang nyata dan berpihak kepada masyarakat, maka perjuangan anak-anak Desa Buku Limau belum benar-benar berakhir.
Sesungguhnya, pihak yang harus berjuang lebih keras hari ini bukanlah mereka, melainkan negara yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal hanya karena dilahirkan dan dibesarkan di sebuah pulau kecil. (*/BilitonNews.co)


Komentar