Menurut pengelola, distribusi solar telah dibagi berdasarkan kuota, yakni 3 ton untuk nelayan Pulau Seliuk dan 2 ton untuk nelayan Desa Padang Kandis serta wilayah sekitarnya.
Usai melakukan wawancara, tim wartawan menuju Pelabuhan Teluk Gembira pada sore hari guna memastikan keberadaan solar subsidi tersebut. Di lokasi, ditemukan sekitar 14 drum plastik berisi solar yang diletakkan di tepi dermaga.
Namun hingga pukul 00.00 WIB, drum-drum tersebut masih berada di lokasi dan tidak diberangkatkan ke Pulau Seliuk.
Keesokan paginya, seorang nelayan Pulau Seliuk berinisial MY mengaku tidak ada pasokan solar yang masuk ke wilayah mereka dalam beberapa hari terakhir.
โSemalam sampai pagi ini tidak ada solar masuk ke Seliuk. Sudah sekitar seminggu tidak masuk. Dalam sebulan paling hanya dua kali ada pengiriman,โ kata MY.
Rangkaian temuan dan keterangan sejumlah sumber semakin memperkuat dugaan adanya penyimpangan distribusi BBM subsidi di wilayah tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai pengawasan distribusi solar subsidi bagi nelayan.
Kepala Desa Pulau Seliuk saat dikonfirmasi di Tanjungpandan, Kamis (14/5/2026), mengaku tidak mengetahui secara rinci terkait distribusi solar subsidi tersebut.
โSaya hanya mengeluarkan surat rekomendasi bagi kelompok nelayan untuk pengambilan solar. Untuk detail kuota dan distribusinya saya tidak mengetahui,โ ujarnya.
Distribusi solar subsidi di SPBN Padang Kandis kini menjadi sorotan masyarakat. Publik mempertanyakan mekanisme pengelolaan dan pendistribusian BBM subsidi agar benar-benar tepat sasaran kepada nelayan.


Komentar