Sebab di rumah, ada anak yang mungkin bertanya kapan ayah pulang.
Ada istri yang mungkin menunggu uang belanja.
Ada beras yang perlahan habis.
Dan ada seorang ayah yang setiap hari harus memilih antara mempertaruhkan tenaga untuk mencari nafkah atau pulang tanpa membawa apa-apa.
Di situlah kesedihan seorang penambang tidak terlihat.
Bukan pada lumpur yang menempel di kaki.
Bukan pada wajah yang terbakar matahari.
Tetapi pada kecemasan yang disimpan sendiri ketika melihat keluarganya.
“Apakah ini yang disebut Indonesia merdeka” kata Adi.
Ia tidak sedang meminta kemewahan.
Ia hanya ingin bekerja dan pulang.
Ia ingin anak-anaknya tetap makan.
Ia ingin biaya sekolah tetap terbayar.
Ia ingin ketika pintu rumah dibuka pada sore atau malam hari, yang dibawa pulang bukan rasa takut, melainkan sedikit rezeki untuk keluarganya.
“Ekonomi sudah sulit. Kami selalu merasa takut. Kemana kami harus mencari keadilan untuk kebutuhan ekonomi kami saat ini yang sedang sakit” tuturnya.
Pertanyaan itu kemudian berhenti di ujung kalimat.
Mungkin tidak ada jawaban yang mudah.
Sebab negara memiliki aturan yang harus dihormati. Aparat memiliki kewajiban menegakkan hukum. Namun di balik semua itu, ada masyarakat kecil yang juga memiliki kebutuhan untuk bertahan hidup.
Mereka bukan sekadar nama dalam laporan penertiban.
Mereka adalah manusia.
Ada ayah.
Ada ibu.
Ada anak-anak.
Ada keluarga yang setiap malam menunggu seseorang pulang membawa nafkah.
Dan mungkin, ketika suara mesin tambang berhenti dan malam mulai turun di tanah Belitung, seorang anak kecil hanya mengenal satu harapan.

Komentar