BILITONNEWS.CO — Pagi bagi seorang penambang bukan selalu tentang matahari yang terbit.
Kadang, pagi adalah tentang keberanian meninggalkan rumah, sementara dari balik pintu ada istri dan anak-anak yang berharap satu hal sederhana, ayah pulang membawa uang untuk makan.
Begitulah kehidupan yang dijalani Adi, salah seorang penambang timah di Belitung.
Tubuhnya mungkin akrab dengan lumpur, panas matahari, dan beratnya pekerjaan. Namun yang paling berat, menurutnya, bukan mengangkat hasil tambang dari tanah.
Yang paling berat adalah rasa takut ketika pulang dengan tangan kosong.
“Setiap hari kami bekerja untuk keluarga. Untuk makan, untuk anak sekolah. Kami bukan mencari kemewahan,” kata Adi kepada BilitonNews.co, Jumat (20/9/2026) malam.
Suaranya menyimpan kegelisahan.
Di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya semakin sulit, Adi mengaku para pekerja tambang kecil merasa berada dalam posisi serba salah.
Mereka membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup, tetapi di sisi lain khawatir terhadap penertiban dan proses hukum apabila aktivitas yang dilakukan dianggap melanggar aturan.
Menurut Adi, pemerintah dan pihak terkait, termasuk Satlap Tri Cakti serta aparat penegak hukum, diharapkan tidak hanya hadir ketika melakukan penindakan, tetapi juga memberikan solusi bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tersebut.
“Kami takut dengan razia, takut ditangkap. Tapi kalau kami tidak bekerja, anak dan istri kami mau makan apa?” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi seorang kepala keluarga, pertanyaan tersebut bisa menjadi beban yang dibawa sepanjang malam.

Komentar