Belitung
Home » Berita » Bunyi “Meja Goyang” yang Menghidupi Dapur Warga: Kisah Atung Menjaga Asa Ekonomi Masyarakat Belitung

Bunyi “Meja Goyang” yang Menghidupi Dapur Warga: Kisah Atung Menjaga Asa Ekonomi Masyarakat Belitung

Aktivitas meja goyang di Simpang Tiga Jalan Serma Abdullah, Tanjungpandan, menjadi salah satu sumber penghidupan warga di tengah melemahnya harga komoditas, Kamis (2/7/2026) malam. (BilitonNews.co/Gumay)

“Kalau dengan pemerintah, sampai sekarang belum ada,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah persaingan usaha. Justru kendala utama berasal dari mekanisme pembayaran yang berkaitan dengan kondisi pendanaan sehingga berpengaruh terhadap kelancaran arus usaha.

Meski demikian, Atung menegaskan usahanya masih berjalan dan tetap berupaya menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.

“Kami tetap berusaha agar usaha ini bisa terus berjalan dan membantu masyarakat,” ujarnya.

Bagi Atung, ukuran keberhasilan usaha bukan hanya dihitung dari besarnya keuntungan.

Warga Lesung Batang Geger, Jenazah Pria Ditemukan di Pinggir Jalan Keramat Tanjungpandan

Yang lebih penting adalah manfaat yang dapat dirasakan orang lain.

“Yang menarik dari usaha ini adalah manfaatnya. Banyak kawan, banyak saudara yang bisa terbantu,” tuturnya.

Selain menjalankan usaha penampungan hasil tambang, Atung juga mengembangkan usaha sembako yang menjadi fokus bisnis lainnya.

Barang kebutuhan pokok tersebut diperoleh dari sejumlah agen lokal sebelum dipasarkan kembali kepada masyarakat.

Diversifikasi usaha itu menjadi salah satu cara menjaga roda ekonomi tetap berputar di tengah kondisi yang tidak selalu berpihak kepada pelaku usaha kecil.

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Belitung Tegaskan Komitmen Presisi dan Pengabdian untuk Masyarakat

Sosok yang Tak Lupa Membantu Sesama

Karakter Atung sebagai pribadi yang peduli terhadap sesama turut dibenarkan sahabat lamanya, Oktoberiantono, warga Belutumbang.

Persahabatan mereka telah terjalin sejak kecil hingga sama-sama merantau ke Jakarta pada era 1990-an. Menurut Oktoberiantono, sifat sosial Atung tidak pernah berubah sejak dahulu.

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *