“Persiapan tahun 2027, ya latihan seperti biasa aja, jaga makan dan istirahat yang cukup. Saya juga masih ada pekerjaan, aktifitas di luar olahraga yang kerja seperti biasa,” katanya.
Sementara itu Feeling Susanty, seorang ibu rumah tangga dan pengusaha coffee shop di Tasikmalaya mengaku track lomba dan cuaca Belitung sangat bagus.
“Jalan dan cuaca bagus sekali, tidak ada polusi. Walaupun kita balapan lagi ngos-ngosan, tapi napasnya tetap enak, segar. Beda dengan daerah lainnya, kalah dengan Belitung,” kata Feeling Susanty.
Untuk persiapan GFNY 2027 di New York, Feeling akan latihan lebih keras fokus olahraga sepeda, karena ia sendiri selain sepeda juga high rock dan padel.
“Kalau persiapan untuk New York, nanti akan fokus ke sepeda aja,” katanya.
Perebutan posisi terdepan pada gelaran GFNY Belitung 2026 barangkali menjadi salah satu gelaran GFNY Indonesia terepik dalam sejarah.
Start pada pukul 06.00 di Pantai Tanjung Pendam, peloton (kelompok pengendara sepeda dalam balapan) awal langsung memacu sepeda untuk mendapatkan posisi terbaik untuk melakukan attack. Jalan Tanjung Pandan – Tanjung Kelayang yang mulus, relatif datar, menjadi santapan nikmat bagi para sprinter.
Di jalur ini, hingga menjelang Pantai Tanjung Tinggi, sekitar 40 pebalap yang berada di posisi terdepan sanggup mempertahankan kecepatan rata-rata di 48 km/jam.
Yang unik, pebalap muda asal Belitung berusia 16 tahun, Dwika Rahmatan tampil cukup dominan.
Rute yang datar, yang barangkali hampir mirip dengan rute dalkot (dalam kota), membuat peloton sulit pecah. Bahkan hingga menjelang kilometer 90, para pebalap masih bergerombol dalam peloton besar.





















Komentar