Ia juga mendorong adanya kegiatan bersama ke depan, seperti perayaan Hari Kemerdekaan dan kegiatan olahraga bersama sebagai bentuk kebersamaan di tengah masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Romo Fadjar menyatakan keterbukaannya terhadap berbagai bentuk kolaborasi. Ia menekankan pentingnya membangun relasi yang cair dan tidak selalu formal.
Bahkan, ia mengundang jemaat GKJW untuk bergabung dalam kegiatan santai โJumat Parokiโ yang rutin digelar setiap pekan.
Menurutnya, interaksi di tingkat akar rumput menjadi kunci dalam menumbuhkan toleransi yang sehat tanpa harus masuk ke perdebatan teologis. Prinsip persaudaraan dalam iman menjadi landasan utama dalam membangun kebersamaan tersebut.
Acara semakin hangat dengan hidangan yang disajikan serta percakapan santai yang berlangsung di berbagai sudut halaman. Tawa dan keakraban menjadi gambaran nyata hubungan harmonis yang terjalin di antara kedua komunitas.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Marudut Purba, disertai harapan akan masa depan yang penuh berkat bagi kedua gereja. Sebagai penutup, seluruh peserta mengabadikan momen dalam sesi foto bersama sebelum melanjutkan ramah tamah.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan. Kedua pihak sepakat bahwa kebersamaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata dari semangat toleransi dan moderasi beragama yang terus dijaga di Kraksaan. (*/BilitonNews.co)


Komentar