Tak hanya melakukan pendalaman karakter, Davina juga rela mengubah penampilan demi memenuhi kebutuhan cerita. Rambut panjang yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khasnya harus dipangkas pendek dan diberi poni agar sesuai dengan sosok yang diperankan.
Perubahan tersebut ternyata menjadi pengalaman baru yang cukup berkesan bagi perempuan berusia 23 tahun itu. Selama enam tahun terakhir sejak memeluk Islam, ia belum pernah memiliki potongan rambut sependek itu.
“Lewat karakter dalam film ini, aku belajar hal baru. Ini juga pertama kalinya dalam enam tahun terakhir aku punya rambut sependek ini. Ternyata, rambut segini boleh juga,” tuturnya sambil tersenyum.
Transformasi Davina tidak berhenti pada penampilan fisik. Film ini juga menuntutnya menguasai dialek dan bahasa Manado dalam sejumlah adegan. Tantangan itu terasa cukup besar, meski ia memiliki darah Manado dari keluarganya.
Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari Davina lebih sering menggunakan bahasa Sunda dibandingkan bahasa daerah asal keluarganya.
Karena itu, ia harus kembali berlatih agar dialog yang diucapkan terdengar natural dan meyakinkan.
“Untuk peran ini, aku lumayan banyak dapat scene berbahasa Manado. Jadi, aku harus belajar lagi menggunakan bahasa Manado,” ungkap kekasih musisi Ardhito Pramono tersebut.
Film Minal Aidin Mohon Maaf Minta Rizki pun menjadi lebih dari sekadar proyek comeback bagi Davina Karamoy.
Film ini menjadi ruang bagi sang aktris untuk mengeksplorasi identitas, mengenang perjalanan hidupnya, sekaligus membuktikan totalitas sebagai seorang pemeran yang siap keluar dari zona nyaman.



Komentar