Namun, di balik rutinitas yang tampak biasa, tersimpan persoalan yang cukup berat. Kendala terbesar yang dihadapi bukan pada pekerjaan, melainkan keterbatasan modal akibat lambatnya pembayaran.
Haryanto menjelaskan bahwa hasil timah yang mereka kelola wajib disalurkan melalui kerja sama dengan PT Timah. Persoalan muncul ketika barang telah diserahkan, tetapi pembayaran belum diterima dalam waktu yang diharapkan.
“Barang sudah kami kirim, tetapi uangnya belum keluar. Akibatnya dana usaha menjadi macet,” ungkapnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap operasional. Jika sebelumnya usaha dapat berjalan enam hari dalam sepekan, kini aktivitas terkadang hanya mampu berlangsung tiga hari karena keterbatasan modal kerja untuk kembali membeli material dan membayar biaya operasional.
Meski demikian, Haryanto memilih tetap bertahan. Ia percaya setiap kesulitan akan menemukan jalannya selama masih ada kemauan untuk bekerja.
Harapan yang ia sampaikan pun sederhana, yakni agar proses pembayaran dapat berlangsung lebih cepat sehingga roda usaha kecil seperti yang dijalankannya tetap berputar dan mampu menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Di balik suara mesin dan butiran pasir yang terus bergoyang di atas meja pemisah, tersimpan doa-doa yang nyaris tak pernah terdengar.
Ada harapan agar tungku tetap menyala, ada tangan-tangan yang ingin terus bekerja, dan ada keluarga yang menanti rezeki dibawa pulang.
Sebab bagi Haryanto dan para pekerja meja goyang, pekerjaan ini bukan sekadar mencari timah. Ini adalah ikhtiar menjaga kehidupan, merawat kebersamaan, dan mempertahankan harapan agar esok masih ada kesempatan untuk kembali bekerja. (BilitonNews.co/Gumay)





















Komentar