Ketiga, fact-checking atau verifikasi fakta. Kemampuan ini semakin penting di tengah maraknya hoaks, manipulasi informasi dan konten yang beredar cepat di media sosial.
Keempat, digital analytics dan GEO, yakni kemampuan membaca perilaku audiens serta mengoptimalkan distribusi berita agar informasi menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Namun, Firdaus mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat kualitas jurnalistik terabaikan.
RRI dan SMSI Punya Kekuatan yang Saling Melengkapi
RRI memiliki posisi strategis sebagai lembaga penyiaran publik dengan jaringan luas hingga berbagai daerah, termasuk wilayah perbatasan.
Sementara SMSI memiliki jaringan perusahaan media siber yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Kekuatan tersebut dinilai dapat menjadi modal besar untuk membangun kolaborasi newsroom, memperluas jangkauan informasi pembangunan, sekaligus mengangkat potensi dan aspirasi masyarakat daerah ke tingkat nasional.
Kerja sama juga dapat diarahkan pada pelaksanaan UKW bagi wartawan anggota SMSI, pelatihan calon penguji melalui Training of Trainer (ToT), serta pembaruan materi UKW sesuai perkembangan dunia jurnalistik.
Menurut Firdaus, tantangan media saat ini bukan hanya soal siapa yang paling cepat mendapatkan perhatian audiens.
Lebih dari itu, media memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, terverifikasi, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi LPP RRI dan SMSI adalah kunci utama menjaga kedaulatan informasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Firdaus.

Komentar