Dari perspektif tersebut, Rika melihat peluang pengembangan scientific eco-edutourism, yakni wisata minat khusus yang mempertemukan kegiatan penelitian, pendidikan, lingkungan, dan konservasi.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah mempertimbangkan skema sharing pendanaan penelitian.
Skema tersebut, menurut Rika, dapat menjadi salah satu instrumen untuk menarik lebih banyak peneliti melakukan penelitian di Belitung sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan mitra internasional.
Pada jangka panjang, ekosistem tersebut berpotensi meningkatkan publikasi ilmiah, memperluas jejaring kerja sama internasional, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat mendukung konservasi serta pembangunan daerah.
Belitung dan Gagasan Rumah Riset
Gagasan memperkuat ekosistem penelitian kemudian mengarah pada usulan pembentukan Research and Innovation Center di Belitung.
Dosen muda IPB University, Dr. Hirmas Fuady Putra, yang merupakan lulusan doktor dari Jepang sekaligus salah satu fasilitator awal kolaborasi IPB University di Pulau Belitung, menyampaikan gagasan tersebut dalam audiensi.
Pusat riset itu diharapkan dapat menjadi base camp bagi peneliti yang melakukan penelitian di Belitung.
Fungsinya dapat dikembangkan lebih jauh, mulai dari penyimpanan peralatan penelitian, ruang kolaborasi akademik, hingga galeri yang mendokumentasikan hasil penelitian mengenai kekayaan hayati Belitung.
Dengan demikian, keberadaan pusat riset bukan semata menyediakan fasilitas bagi peneliti, tetapi juga dapat menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan masyarakat.



Komentar