Sementara itu, Martinus Joko Lelono menilai Gereja perlu mengambil peran nyata dalam menghadapi krisis ekologis. Menurutnya, persoalan sampah dan kerusakan lingkungan bukan sekadar masalah sosial, melainkan juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual umat.
Dalam pemaparannya, Kianto Atmodjo menjelaskan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, sesama, dan alam.
Ia mendorong paroki melakukan langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, mengelola sampah organik, hingga menghadirkan liturgi yang lebih ramah lingkungan.
Pengalaman nyata juga dibagikan oleh Fransisca Supriyani Wulandari melalui praktik Gerakan Paroki Hijau di Paroki Maria Marganingsih Kalasan.
Program yang dijalankan mencakup penghijauan, pengolahan sampah, pemanfaatan lahan kosong untuk pangan, hingga pembentukan kader lingkungan.
Ia memperkenalkan konsep โtiga Ahโ, yakni cegah, pilah, dan olah sampah sebagai langkah sederhana yang dapat diterapkan umat dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, Bernadus Wibowo Suliantoro menyoroti persoalan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinilai sudah berada pada tahap darurat.
Ia mengajak peserta melihat masalah lingkungan sebagai persoalan etika manusia terhadap alam dan pentingnya solidaritas bagi kelompok masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pengalaman peserta terkait pengelolaan sampah residu, limbah plastik, hingga strategi membangun gerakan ekologis berkelanjutan di lingkungan paroki.


Komentar