Erwin menyebut, berdasarkan hasil komunikasi dengan para nelayan, mereka sudah tidak melaut selama kurang lebih satu minggu akibat ketiadaan bahan bakar.
Dalam aktivitas normal, seorang nelayan setidaknya membutuhkan sekitar 5 liter Pertalite setiap hari.
BBM tersebut digunakan untuk mendukung operasional perahu, termasuk genset untuk penerangan dan kebutuhan pendukung lainnya selama berada di laut.
Namun saat pasokan tersendat, nelayan disebut hanya mendapatkan sekitar 1 hingga 2 liter.
Jumlah tersebut dinilai tidak cukup untuk menunjang perjalanan melaut.
Kondisi itu membuat nelayan berada dalam pilihan yang sulit.
Melaut tanpa bahan bakar bukan pilihan yang memungkinkan.
Sementara menunggu pasokan berarti harus kehilangan penghasilan.
Ketika disinggung mengenai kesabaran menghadapi kondisi tersebut, Rustam mengaku nelayan berada dalam posisi sulit.
Menurutnya, persoalan BBM sudah menyentuh kebutuhan paling mendasar, yakni keberlangsungan hidup keluarga.
“Kami berada dalam posisi yang sulit untuk terus bersabar karena ini menyangkut dapur dan kelanjutan hidup keluarga,” kata Rustam.
Mewakili suara para nelayan di Pelabuhan Baro, Rustam dan Erwin berharap persoalan distribusi BBM bersubsidi tersebut segera mendapat perhatian serius dari pihak berwenang.
Mereka berharap tata niaga dan pasokan Pertalite di tingkat pedagang eceran maupun pangkalan dapat kembali normal.
Dengan begitu, nelayan dapat kembali menghidupkan mesin perahu dan melaut untuk mencari nafkah.
Bagi nelayan Baro, persoalannya sederhana.

Komentar