“Pernah nggak masyarakat menyampaikan ketika anggota dewan itu reses di Kecamatan Membalong terkait dengan dermaga pelabuhan” ujarnya.
Edyar bahkan mempertanyakan mengapa belum ada solusi konkret yang dirasakan masyarakat.
“Mana para pemimpin wakil rakyat Dapil Membalong. Bukti nyata, jangan hanya teori dan duduk manis,” katanya.
Selain persoalan pembangunan, kondisi dermaga kayu juga membutuhkan biaya perawatan.
Edyar mengatakan, selama ini perbaikan dermaga dilakukan menggunakan anggaran swadaya masyarakat.
Masyarakat ikut menanggung biaya perbaikan agar akses transportasi tetap dapat digunakan.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Suwito alias Witok.
Suwito merupakan warga yang lahir di Pulau Seliu.
Saat ini ia berdomisili di Tanjungpandan.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi dermaga yang menjadi akses penting masyarakat Pulau Seliu.
“Saya lahir di Pulau Seliu. Saya berdomisili Tanjungpandan tapi aslinya Pulau Seliu. Sangat miris melihat Dermaga Pelabuhan Teluk Gembira karena itu akses jantung ekonomi masyarakat Pulau Seliu,” kata Suwito.
Suwito mengatakan, kondisi dermaga tersebut sudah berlangsung sangat lama.
Usianya kini 48 tahun.
Ia mengaku sejak kecil sudah mengetahui keberadaan dermaga tersebut.
“Sudah puluhan tahun. Umur saya juga sekarang sudah 48 tahun. Sampai sekarang masih begitulah dermaganya,” ujarnya.
Menurut pengetahuan Suwito, dermaga tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1970-an.
“Dari tahun tujuh puluhan. Tidak ada perubahan,” katanya.
Kini masyarakat Pulau Seliu berharap persoalan Dermaga Teluk Gembira mendapat perhatian dan solusi.

Komentar