Ensiklik itu juga menjadi jawaban atas meningkatnya pengaruh gerakan sosialisme dan komunisme yang berkembang di berbagai negara Eropa saat itu.
Kini, melalui Magnifica Humanitas, Gereja kembali mengingatkan dunia akan tantangan zaman baru. Jika dahulu persoalan utama muncul dari revolusi industri, maka saat ini perhatian tertuju pada dampak kecerdasan buatan terhadap kehidupan manusia, pekerjaan, relasi sosial, dan etika.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan justru menghilangkan nilai kemanusiaan.
Gereja, menurutnya, terus melanjutkan tradisi refleksi selama dua ribu tahun untuk memastikan bahwa kemajuan zaman tetap berpihak pada martabat manusia dan kesejahteraan bersama.
Zaman AI
Dalam pidatonya saat merilis ensiklik itu, Paus Leo XIV mengatakan ensiklik “Magnifica Humanitas” sebagai tanggapan Gereja terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI). Lalu, ia menyerukan agar AI “dilucuti” dari logika dominasi, pengucilan, dan perang.
Paus menjelaskan bahwa “Magnifica Humanitas” muncul dari mendengarkan secara luas para ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin politik, dan keluarga yang prihatin tentang masa depan generasi muda.
Pada saat yang sama, Paus mengatakan bahwa ia telah mendengar “suara-suara yang sangat mengkhawatirkan” mengenai sistem senjata otonom dan algoritma yang mampu menolak akses ke perawatan kesehatan, pekerjaan, atau keamanan berdasarkan data yang tidak adil dan bias.
Dari proses perenungan tersebut, kata Paus, muncul keyakinan yang diungkapkan dengan jelas dalam ensiklik tersebut: “kecerdasan buatan perlu dilucuti senjatanya.”


Komentar