Di Bangka Belitung, harga kain cual bahkan dapat mencapai jutaan rupiah per dua meter, bergantung pada motif dan kerumitan pengerjaan.
Namun, bagi Nana Murry, daya tarik cual bukan semata pada materialnya.
โYang paling menarik adalah ceritanya,โ ujarnya.
Setiap motif memiliki akar sejarah mulai dari motif bebek, ragam flora seperti daun simpor, hingga adaptasi desain kain berusia ratusan tahun yang ditenun ulang dengan teknik tradisional.
Benang emas lama dapat diurai, dipintal kembali, lalu dihidupkan dalam pola baru. Di situlah nilai sesungguhnya terletak pada warisan, pada proses, pada makna.
Ia menilai, tantangan terbesar wastra lokal bukan hanya soal harga, melainkan kurangnya sosialisasi dan literasi budaya. Banyak masyarakat belum sepenuhnya mengenal kekayaan tekstilnya sendiri.
Padahal, ketika cerita di balik motif dipahami, harga bukan lagi sekadar angka, melainkan representasi karya, waktu, dan tradisi yang dijaga lintas generasi.
Melalui panggung Indonesia Fashion Week, Miranda Atelier membawa misi lebih dari sekadar pertunjukan busana.
Ini adalah upaya merawat identitas, mengangkat martabat wastra Bangka Belitung, serta membuktikan bahwa tradisi dapat tampil modern tanpa kehilangan ruhnya.
Dari Belitung ke Jakarta, dari kain tenun ke runway nasional wastra Nusantara kembali menemukan sorot cahayanya. (BilitonNews.co/Gumay)





















Komentar