Dalam era dominasi media sosial, storytelling dinilai penting untuk memulihkan martabat manusia dan menjembatani jurang perbedaan.
Sementara itu, Rm Bonaventura Mwenda menyinggung perubahan peta geomisi global yang turut memengaruhi cara berkomunikasi.
Afrika dan Asia, yang dahulu dianggap wilayah pinggiran, kini justru menjadi pusat kehidupan iman yang dinamis.
Karena itu, komunikasi yang berhasil harus ditopang oleh teologi yang otentik dan kepekaan budaya, meneladani Yesus yang lahir di Betlehem sebagai simbol kehadiran Allah dalam kesederhanaan budaya manusia.
Dalam konteks dialog antariman, Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia, menegaskan bahwa dialog merupakan proses pencarian kebenaran bersama yang bertumpu pada kebebasan.
Ia menegaskan komitmen SVD untuk terus menjadi โpembangun jembatanโ dan โpelintas batasโ melalui dialog profetis.
Pada akhirnya, penguasaan bahasa dan kemampuan komunikasi dipahami sebagai sarana penting untuk menghadirkan perdamaian dalam berbagai dimensi kehidupan.
Melalui dialog yang dibangun lewat storytelling dan pemanfaatan kanal digital, martabat manusia dapat dipulihkan.
Dalam ruang dialog – bukan perdebatan – perjumpaan sejati terjadi, dan di sanalah peluang bagi perdamaian dunia semakin terbuka. (*/bilitonnews.co)















































Komentar