Perbedaan yang cukup jauh ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana angka statistik kemiskinan benar-benar mencerminkan kondisi riil masyarakat, termasuk di daerah yang dikenal sebagai Negeri Laskar Pelangi, Kabupaten Belitung.
Menjelang Lebaran, tekanan ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah juga semakin terasa. Kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan pokok berpotensi menekan daya beli masyarakat, meskipun tradisi mudik biasanya meningkatkan perputaran uang di daerah.
Situasi ini dinilai menjadi pengingat bagi para pemimpin daerah untuk lebih jujur dalam membaca data dan realitas sosial yang ada. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melihat persoalan kemiskinan secara lebih jernih tanpa hanya berpegang pada angka statistik semata.
Indonesia sebenarnya telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin. Namun dalam praktiknya, implementasi kebijakan tersebut dinilai masih belum optimal.
Kelompok pekerja dan buruh yang rentan justru sering kali belum sepenuhnya tersentuh program pengentasan kemiskinan maupun jaring pengaman sosial.
Lebaran memang menjadi simbol kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa. Namun makna kemenangan itu akan lebih lengkap jika diiringi keberanian menghadapi realitas sosial bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.
(*/BilitonNews.co/Gumay)
























