Namun, bagi Gibran, Paskibraka bukan sekadar tentang barisan yang rapi atau langkah yang seragam.
Lebih dari itu, ia belajar tentang arti tanggung jawab, kepemimpinan, dan cinta kepada tanah air nilai-nilai yang diam-diam membentuk kedewasaan seorang anak muda.
Di tengah proses yang penuh tekanan, Gibran memegang satu kalimat sederhana yang terus menuntunnya untuk bertahan confia en el proceso, percayalah pada proses.
Moto itu menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari ketekunan yang sering kali sunyi, dari latihan yang berulang, dan dari keberanian untuk tetap melangkah meski rasa lelah datang berkali-kali.
โWalaupun belum sampai ke tingkat nasional, saya ingin membuktikan bahwa anak muda Belitung juga bisa berprestasi. Jangan takut mencoba dan jangan mudah menyerah,โ ujarnya.
Bagi Gibran, keberanian bukan berarti tidak pernah takut. Keberanian adalah tetap berjalan meski langkah terasa gemetar.
โLangkah boleh gemetar, tapi mimpi harus tetap besar,โ ucapnya.
Keberhasilan Muhammad Gibran Al-Farisyi kini menjadi lebih dari sekadar kabar prestasi pelajar.
Ia menjelma menjadi pesan kecil yang menyala bagi generasi muda Belitung, bahwa dari daerah yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota pun, mimpi tetap bisa tumbuh tinggi dan berkibar bersama Merah Putih. (BilitonNews.co/Gumay)


Komentar