Maka Paus Leo XIV yang pidatonya menyoroti berbagai persoalan dunia itu, kembali menyerukan agar jalan perdamaian dan dialog inklusif dipilih dengan berani, sehingga dapat menjamin kesejahteraan semua orang.
“Terlepas dari situasi tragis yang ada di depan mata kita, perdamaian tetap merupakan kebaikan yang sulit namun realistis. Upaya perdamaian membutuhkan kerendahan hati dan keberanian,” katanya.
Pertumpahan Darah
Takhta Suci melihat bahwa situasi Ukraina di lapangan semakin tragis. Pertumpahan darah terus berlangsung. Rakyat lah yang menjadi korban, tidak hanya materiil maupun non-materiil.
Karena itu, Takhta Suci kembali mendesak segera diadakan gencatan senjata. “Lalu diikuti dialog yang tulus dan jujur untuk mencari jalan bagi terciptanya perdamaian,” kata Paus.
Paus Leo XIV menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak goyah, dan menegaskan kembali kesediaan Takhta Suci untuk “mendukung setiap inisiatif yang mempromosikan perdamaian dan harmoni.”
Sementara itu, menyinggung situasi di Tanah Suci, Paus Leo XI mencatat bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan pada bulan Oktober, warga sipil terus mengalami “krisis kemanusiaan yang serius.”
Paus menegaskan kembali perhatian pada inisiatif yang bertujuan untuk menjamin warga Palestina di Gaza “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng.”
Dalam pidatonya itu, Paus XIV juga menegaskan kembali bahwa solusi dua negara tetap menjadi perspektif kelembagaan untuk memenuhi aspirasi Palestina dan Israel.
Ia mengatakan Vatikan sangat memperhatikan setiap inisiatif diplomatik yang berupaya menjamin bagi warga Palestina di Jalur Gaza โmasa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng di tanah mereka sendiri, serta bagi seluruh rakyat Palestina dan seluruh rakyat Israel.โ















































Komentar