BILITONNEWS.CO – Ziarah kubur atau yang biasa dikenal sebagai “ruwahan” menjadi tradisi yang rutin dilakukan masyarakat Belitung dan Bangka Belitung umumnya sesaat setelah salat Idul Fitri.
Aktivitas ini biasanya dilakukan di pemakaman umum yang ramai dikunjungi warga sejak pagi hingga sore hari pertama Lebaran.
Menurut para ulama, ziarah kubur bertujuan mendoakan sanak saudara yang telah meninggal, mengingat kematian (memento mori), serta memohon kebaikan bagi ahli kubur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Momentum Idul Fitri dipilih karena keluarga biasanya berkumpul, termasuk mereka yang sedang mudik, sehingga ziarah dilakukan bersama-sama.
Tradisi dan Hukum dalam Islam
Di sejumlah daerah, tradisi ziarah kubur dikenal dengan sebutan ruwahan atau ruwah kubur, terutama di Bangka Belitung.
Biasanya masyarakat membersihkan makam, mencabut rumput liar, menaburkan bunga, menyiram makam, dan membaca tahlil atau doa bersama.
Ziarah kubur termasuk ibadah yang disunnahkan dalam Islam untuk mengingat akhirat.
Namun, kegiatan ini tidak diwajibkan dilakukan khusus pada hari Idul Fitri.
Selain bernilai spiritual, ziarah juga menjadi momen mempererat silaturahmi antar keluarga.
Tata Cara Menyiram Kuburan
Menyiram kuburan merupakan tradisi yang lazim dilakukan, tetapi harus sesuai tata cara yang dianjurkan
- Menyiram dari kepala ke kaki secara perlahan.
- Hindari menyiram berlebihan hingga menggenang atau merusak tanah.
- Tidak dianjurkan menangis berlebihan atau menganggap air menentukan nasib jenazah.
Doa yang dapat dibaca saat menyiram kuburan antara lain, “Ya Allah, ampunilah dia dan berikanlah rahmat kepadanya.”
Pesan Moral
Para ulama menekankan agar ziarah kubur dilakukan dengan niat yang benar dan penuh kesopanan.
























