Inspirasi
Home » Berita » Ketika Seorang Kapolres Berpamitan: Ada Rasa Haru, Ada Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan

Ketika Seorang Kapolres Berpamitan: Ada Rasa Haru, Ada Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan

Desain ucapan pamit AKBP Sarwo Edi Wibowo, S.I.K., yang diunggah di Grup WhatsApp Forum Tujuh Pilar Daerah pada Sabtu (18/7/2026), sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan diri menjelang mengakhiri masa tugas sebagai Kapolres Belitung. (direkomendasikan)

Dalam pesan pamitnya, AKBP Sarwo Edi Wibowo tidak berbicara mengenai capaian pribadi.

Sebaliknya, ia justru memilih menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan, kebersamaan serta kepercayaan yang telah diberikan selama kami mengemban tugas di Kabupaten Belitung.

Kami juga memohon maaf atas segala kekhilafan dalam menjalankan tugas.”

Ucapan itu mencerminkan kerendahan hati seorang pemimpin yang memahami bahwa keberhasilan menjaga keamanan tidak pernah lahir dari satu institusi semata.

Pisah Sambut Kapolres Belitung Sarat Makna, AKBP Satria Darma Siap Lanjutkan Pengabdian untuk Masyarakat

Ia tumbuh dari kebersamaan, saling percaya, dan semangat gotong royong seluruh elemen bangsa.

Kini, amanah baru telah menanti. AKBP Sarwo Edi Wibowo dipercaya mengemban tugas sebagai Kabag Binkar Ro SDM Polda Kepulauan Bangka Belitung.

Sebuah penugasan yang bukan sekadar perpindahan jabatan, melainkan bentuk kepercayaan negara kepada seorang Bhayangkara untuk terus mengabdi di medan yang berbeda.

Dalam setiap rotasi jabatan di lingkungan Polri, sesungguhnya yang berpindah hanyalah tempat bertugas. Sementara sumpah pengabdian tetap sama menjaga negara, melindungi masyarakat, dan setia kepada Merah Putih.

Sebagai penutup pesannya, AKBP Sarwo Edi Wibowo memilih sebuah pantun yang akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Resmi Pimpin Polres Belitung, AKBP Satria Darma Titip Pesan Menyentuh: Jangan Sakiti Hati Masyarakat

“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.

Kalau ada umur yang panjang, boleh kita berjumpa lagi.”

Pantun itu terdengar sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan harapan bahwa setiap perpisahan bukanlah akhir dari silaturahmi.

Laman: 1 2 3 4

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *