Ia tidak melihat harta. Ia hanya melihat manusia.
Ironisnya, di banyak hubungan, ketulusan justru kalah oleh ketakutan yang tidak pernah benar-benar terbukti.
Dalam psikologi sosial, situasi seperti ini dikenal sebagai proyeksi ketakutan. Seseorang memproyeksikan kekhawatiran yang ada dalam dirinya kepada orang lain. Ia lebih percaya pada kemungkinan buruk yang ada dalam pikirannya daripada realitas hubungan yang sedang dijalani.
Akibatnya, hubungan yang seharusnya bisa tumbuh menjadi persahabatan yang kuat justru berhenti sebelum berkembang.
Bukan karena tidak ada ketulusan. Tetapi karena seseorang memilih mempercayai prasangka.
Padahal, tanda-tanda persahabatan sejati sebenarnya sangat mudah dikenali.
Sahabat yang tulus tidak menilai seseorang dari mobil yang ia kendarai, rumah yang ia miliki, atau fasilitas yang mengelilinginya. Ia melihat sesuatu yang jauh lebih sederhana. Bagaimana seseorang bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain.
Ia hadir bukan karena keuntungan.
Ia hadir karena hubungan itu sendiri berarti.
Ketulusan juga tidak banyak bicara. Ia lebih sering terlihat dalam tindakan kecil. Menanyakan kabar ketika keadaan sedang tidak baik. Tetap datang ketika situasi sedang sulit. Atau sekadar mendengarkan ketika orang lain membutuhkan tempat bercerita.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang sebenarnya menjaga sebuah persahabatan tetap hidup.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun karena kepentingan materi biasanya memiliki umur yang pendek. Ia terlihat ramai ketika keadaan menguntungkan, tetapi perlahan sepi ketika keuntungan itu hilang.
























