BILITONNEWS.CO, JAKARTA – Di bawah terik matahari Jakarta, seorang pengemudi bajaj asal Cirebon duduk menanti penumpang di pangkalan Jalan Raya Mangga Besar, Jumat (9/10/2026).
Kendaraan berlalu-lalang, suara klakson bersahutan, sementara ia masih bertahan di balik kemudi. Sesekali harapannya tertuju kepada orang-orang yang melintas, berharap ada yang menghampiri dan menggunakan jasanya.
Bagi sebagian orang, jalanan mungkin sekadar tempat untuk mengejar waktu. Namun, bagi pria yang telah puluhan tahun mengemudikan bajaj itu, jalanan adalah tempat menggantungkan hidup.
Setiap hari, sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar 18.00 WIB, ia menghabiskan waktunya mencari penumpang. Panas, debu, dan lelah menjadi teman sehari-hari. Namun, panjangnya waktu bekerja tak selalu menjamin penghasilan yang cukup.
“Setoran lima puluh,” ujarnya singkat saat ditemui BilitonNews.co, merujuk pada setoran Rp50 ribu yang harus dipenuhi.
Di balik kemudi bajaj sederhananya, ada tanggung jawab yang tak ringan. Ia memiliki tiga orang anak yang menjadi bagian dari alasan untuk terus bertahan di kerasnya kehidupan Ibu Kota.
Ketika penumpang datang, ada rezeki yang bisa diperoleh. Namun, ketika pangkalan sepi, waktu tetap berjalan dan kebutuhan keluarga tak pernah berhenti menunggu.
Tak banyak keluhan keluar dari mulutnya. Ia menjalani hari demi hari dengan sederhana, seolah lelah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaannya.
Di jalanan, tak semua perjuangan terdengar. Ada yang berteriak menawarkan dagangan, ada yang berlari mengejar waktu, dan ada pula yang diam menunggu di balik kemudi, berharap hari itu membawa cukup rezeki untuk dibawa pulang.

Komentar