BILITONNEWS.CO – Idul Fitri di Belitung pada masa lampau bukan sekadar hari raya, melainkan momen yang sarat dengan nilai religius, kekeluargaan, dan gotong royong.
Mayoritas masyarakat Belitung (92,23%) yang beragama Islam, merayakan Lebaran dengan berbagai tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun.
Nganggung (Dulang), salah satu tradisi paling khas adalah Nganggung, yaitu membawa makanan di atas dulang atau rantang yang ditutup tudung saji berwarna merah, kuning, atau hijau.
Dilakukan saat perayaan hari besar Islam, termasuk Idul Fitri.
Warga membawa dulang dari rumah ke masjid atau balai desa untuk disantap bersama.
Tradisi ini mencerminkan persaudaraan tanpa sekat sosial.
Ada juga tradisi mandi Belimau adalah ritual mandi Belimau dilakukan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin menjelang Ramadan atau Lebaran.
Menggunakan air yang dicampur dengan buah limau (jeruk purut/nipis) dan daun pandan.
Dipercaya dapat membersihkan diri dari kotoran dan dosa sebelum memasuki bulan suci.
Tradisi lainnya Ziarah Kubur (Ngangkik) dilakukan sebelum Lebaran, masyarakat Belitung tempo dulu rutin berziarah ke makam keluarga.
Ziarah untuk mendoakan leluhur dan membersihkan makam.
Sebagai bentuk penghormatan, pengingat akan kematian, dan memperkuat ikatan emosional dengan nenek moyang.
Serta Maras Taun (Pesta Panen), tradisi ini biasanya dilakukan setelah panen padi, namun sering berdekatan dengan Lebaran di pedesaan.
Puncaknya berupa pemotongan lepat gede (ketan isi ikan atau kelapa) yang bisa mencapai 2 meter dan berat lebih dari 200 kg.


