Digitalisasi tetap penting, tetapi ia tidak boleh dilihat sebagai obat mujarab. Yang dibutuhkan UMKM bukan hanya ajakan untuk masuk marketplace, melainkan dukungan pendampingan, edukasi, dan kebijakan yang memastikan mereka tidak sekadar ikut arus, tetapi benar-benar mampu bertahan dan tumbuh.
Tanpa itu, UMKM akan terus berada pada posisi yang sama: sudah Go-Digital, tapi belum benar-benar Go-Naik.
Lebih jauh lagi, situasi ‘sudah Go-Digital tetapi belum Go-Naik’ mengingatkan kita bahwa perubahan digital tidak dapat terwujud sendiri tanpa adanya dukungan ekosistem.
Selama pelaku usaha kecil dan menengah masih berjuang sendiri dalam menghadapi algoritma yang tidak jelas, biaya iklan yang kian bertambah, serta persaingan dengan merek besar yang memiliki sumber daya lebih besar, digitalisasi justru dapat memperburuk ketimpangan di antara pelaku bisnis.
Dunia digital menawarkan banyak peluang, tetapi juga penuh dengan tantangan bagi mereka yang tidak memiliki akses yang cukup terhadap pengetahuan, pelatihan, dan bimbingan teknis.
Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi oleh digitalisasi UMKM bukan sekadar masalah kapasitas pribadi, melainkan juga masalah struktural yang memerlukan kerjasama yang lebih mendalam.
Pemerintah harus memastikan bahwa regulasi dan infrastruktur digital berjalan dengan cara yang inklusif, akademisi perlu memperkuat penelitian dan dukungan berdasarkan kebutuhan nyata pelaku usaha, sementara sektor swasta harus memberikan akses pelatihan yang relevan dan tidak hanya mementingkan kepentingan platform.















































Komentar