Pelaku usaha bermodal besar biasanya mampu membayar influencer untuk menaikan brand yang dia miliki, sedangkan bagi pelaku UMKM yang memiliki modal terbatas sulit untuk mengakses hal tersebut.
Marketplace memang membuka pintu, tetapi siapa yang benar -benar terlihat itu sepenuhnya permainan algoritma. Dan dalam ekonomi digital hari ini, visibilitas adalah segalanya.
Namun pengalaman negatif bukan satu – satunya cerita. Ada juga pelaku UMKM yang merasakan manfaat nyata dari adanya marketplace. Mereka tidak lagi bergantung pada pembeli lokal, dan produk mereka dapat mencapai konsumen luar daerah.
Bagi kelompok ini, teknologi benar-benar membantu, terutama ketika mereka memiliki cukup literasi digital, modal, dan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan platform.
Kontras inilah yang seharusnya membuat kita berhenti menyederhanakan digitalisasi sebagai solusi universal.
Teknologi bukan hanya soal masuk ke marketplace, tetapi soal kemampuan mengikuti ritme yang ditentukan oleh platform besar.
Ada faktor literasi, modal, jaringan, dan pemahaman algoritma yang menentukan siapa yang naik dan siapa yang tertinggal. Tanpa itu semua, digitalisasi hanya menjadi etalase baru yang tidak menjanjikan peningkatan berarti.
Pada akhirnya, UMKM berada dalam persimpangan yang tidak mudah. Mereka dituntut untuk terus beradaptasi dengan dunia digital, sementara kenyataan operasional di lapangan masih jauh dari ideal.
Teknologi memberi jalan, tetapi tidak selalu memberi arah. Selama kita terus mengampanyekan digitalisasi tanpa memahami pergulatan riil para pelakunya, kita berisiko menciptakan ilusi bahwa semua UMKM akan maju hanya karena mereka sudah โonlineโ.















































Komentar