Opini: Fitri Evilia, Dea Adinda Riskya, Lovina Yasyfa Nazwa, Rindu Lola Yolanda N, Retno Julia Artika, Devary Darren.
DIGITALISSI UMKM kerap digembor-gemborkan sebagai jalan pintas menuju kemajuan. Para pelaku usaha didorong untuk untuk masuk ke dunia marketplace, beradapatasi dan mengikuti arus ‘ekonomi baru’ yang serba cepat dan instan.
Namun, menurut (Ndraha et al, 2024) digitalisasi UMKM memberikan keuntungan dan kemudahan, namun banyak juga tantangan yang harus di hadapi.
Hal ini sejalan dengan temuan kami di lapangan, para pelaku UMKM memang merasakan kemudahan mulai dari promosi, visibilitas, hingga akses konsumen luar daerah.
Namun pada kenyataanya dengan adanya marketplace penjualan tidak ikut naik secara signifikan seperti toko digital sepi kunjungan, dan upaya mengikuti algoritma justru melelahkan.
Antara tuntutan untuk ‘Go-Digital’ dan hasil yang belum ‘Go-Naik’ UMKM berada dalam ruang abu-abu digitalisasi yang jarang dibicarakan.
Di beberapa tititk, para pelaku UMKM mengaku bahwa digitalisasi justru menciptakan pekerjaan tambahan yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Mereka harus belajar memotret produk dengan baik, memahami cara kerja iklan berbayar, hingga memikirkan strategi menaikan rating agar tidak tersisih.
Bagi sebagian pelaku yang tidak terbiasa dengan teknologi, ini bukan sekedar proses belajar, melainkan tekanan yang membuat mereka merasa ‘tidak cukup canggih’ untuk mengikuti pasar.
Lebih jauh, mereka menghadapi kenyataan bahwa algoritma marketplace tidak bekerja setara bagi semua pelaku usaha.















































Komentar